Kamis, 18 Agustus 2022

BUDAYA POSITIF DI KELAS

 

1.1.LATAR BELAKANG

Pada tanggal 20 November 2020 telah diterbitkan SKB 4 Menteri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada tahun Ajaran 2020/2021 dan pada Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pademi Corona Virus Desease 19 (COVID 19).

Mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran, berbagai masukan dari para ahli dan organisasi  serta mempertimbangkan evaluasi implementasi SKB Empat Menteri terkait pelaksanaan pembelajaran di Zona selain merah dan orange, yakni di zona kuning  dan hijau, untuk dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Kabupaten Gowa termasuk ke dalam zona merah, sehingga SDN Bontociniayo mengadakan Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) sampai sekarang.  Kegiatan PJJ yang belum maksimal dengan indikasi menurunnya motivasi murid.  Hal ini terlihat dari partisipasi murid dalam pembelajaran yang rendah dan lambatnya pengumpulan tugas. Maka dibuatlah kesepakatan-kesepakatan kelas  yang melibatkan semua murid dalam bentuk poster yang berisi perilaku-perilakun positif yang diharapkan akan mampu menjadi Budaya positif di kelas maupun di Sekolah.

1.2 DESKRIPSI AKSI NYATA

Kegiatan aksi nyata diawali  konsultasi dengan kepala sekolah dan mensosialisasikan kepada rekan sejawat tentang kegiatan yang akan di lakukan di kelas online pada saat rapat di sekolah. Karena sasaran utama  kegiatan adalah murid maka penulis mensosialisasikan kepada murid  melalui grup kelas (WAG).

Guru meminta murid untuk memikirkan tentang kelas impian mereka dan mengirimkan kedalam grup kelas WAG, setelah murid mengirimkan pesan tentang kelas impian mereka, guru kemudian memberikan umpan balik tentang kelas impian mereka dengan menanyakan “apa yang harus dilakukan agar kelas impian mereka terwujud” dari situ guru mulai meminta mereka memasukkan ide berupa kesepakatan-kesepkatan di kelas untuk mencapai kelas impian mereka. Kemudian Guru dan murid berdiskusi digrup kelas untuk membahas kesepakatan kelas . Murid menyampaian usulan kesepakatan kelas dan direspon dengan baik oleh guru, kemudian menanyakan kembali kesepatan kelas serta mengarahkan jika ada usulan yang tidak sesuai,kurang pas, atau tidak sopan. Setelah semua setuju maka guru menyimpulkan hasil diskusi.

1.3.HASIL AKSI NYATA

Hasil yang diperoleh dari kegiatan aksi nyata  pembuatan kesepakatan kelas dengan poster budaya postif di kelas  adalah :

1.      Tepat waktu

2.      Berkata-kata yang baik

3.      Jujur

4.      Menghargai guru dan teman

5.      Menyelesaikan tugas

1.4 REFLEKSI

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kegiatan aksi nyata ini sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak sangat diperlukan untuk perbaikan di masa depan. Selama diskusi kesepakatan kelas berlangsung peran guru sangat penting. Karena mengarahkan usulan kepada budaya positif yang ada di kelas impian. Disamping itu, murid juga mempunyai kebebasan untuk memberikan usulan tentang kelas impian mereka adapun kekurangan yang  paling menonjol adalah pada saat diskusi tentang kelas impian, ada beberapa murid yang tidak aktif dikarenakan beberapa kendala sehingga diskusi kurang maksimal. Sehingga Penulis mencoba menjangkau mereka dengan melakukan home visit atau meminta murid yang terkendala kuota untuk ke sekolah sehingga kami dapat berdiskusi di halaman rumah warga yang letaknya tidak jauh dari sekolah.

 1.5 RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG

Rencana yang dapat dilakukan adalah mencetak kesepakatan kelas dengan ukuran yang besar agar gampang terlihat dan diletakan di tempat strategis yang udah diingat. Sebagai legalitas  maka akan ada tanda tangan murid dan guru beserta foto. Apabila pembelajaran selanjutnya adalah tatap muka maka kesepakatan kelas yang telah dibuat akan ditinjau kembali dan dibuat kesepakatan kelas yang baru.

1.6.DOKUMENTASI



    

 





 



                 


                                                                                   

   

                                                                                        

 


Senin, 25 Oktober 2021

ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 3.3

  " AMMACA"

Aktifitas Membaca Comik Anak

 

PERISTIWA (FACT)

Latar belakang

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran penting dalam menanamkan budaya dan karakter yang baik kepada murid. Salah satu pembelajaran yang menanamkan budaya dan karakter kepada murid yakni diberi pengenalan dan pemahaman dalam mencari sumber pengetahuan dan informasi dengan cara berliterasi. Kebutuhan literasi di era global ini menuntut pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi sistem dan pelayanan pendidikan. kemampuan berliterasi murid berkaitan dengan tuntutan keterampilan membaca yang berujung pada kemampuan memahami informasi. Murid kelas 6 SD Negeri Bontociniayo masih kurang memahami isi tulisan yang telah mereka baca ketika pembelajaran berlangsung serta kurang memiliki perbendaharaan kosa kata, ini di sebabkan karena rendahnya minat baca pada murid. Dalam hal ini saya sebagai CGP berinisiatif untuk meningkatkan motivasi dan minat baca murid dengan menggunakan komik yang terintegrasi dengan pembelajaran. Komik digunakan sebagai media karena dengan menggunakan komik murid akan lebih tertarik untuk membaca, meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas, mudah memhami konsep dan meningkatkan daya ingat. sebagai calon guru penggerak saya mencetuskan Program  Literasi “Ammaca”  yang sesuai yang dengan kebutuhan murid hingga mampu meningkatkan minat baca murid. Selanjutnya Program literasi tersebut  dinyatakan dalam aksi mulai dari kelas dan lingkungan sekolah pada akhirnya. Aksi nyata ini juga adalah sebagai kegiatan inisiasi dan pemicu untuk menciptakan budaya positif sekolah yang bermula dari kelas.

Tujuan

1.      Meningkatkan minat membaca murid

2.     Membangun kesadaran murid akan pentingnya membaca untuk mendukung pembelajaran yang efektif

3.      Meningkatkan cara berpikir murid

4.      Menjadikan literasi sebagai budaya positif

5.      Membantu meningkatkan daya fokus dan kemampuan konsentrasi murid

6.      Meningkatkan kemampuan seseorang dalam merangkai kata yang bermakna

Deskripsi kegiatan    

Program “ammaca” adalah program literasi membaca dengan menggunakan komik yang terintegrasi pada pembelajaran murid. Guru membuat komiknya sendiri dengan menggunakan aplikasi canva, comic strip creator dan my picture books. Menampilkan komik dalam bentuk digital sebagai bagian dari program “ less-paper” merupakan tindakan sederhana untuk menyelamatkan hutan tetapi tidak menutup kemungkinan guru akan

mencetak komik tersebut dengan tetap berusaha melakukan penghematan kertas, pencetakan dilakukan untuk lebih memudahkan murid dalam membaca dan memahami isi dari komik tersebut. Pada saat pembelajaran luring, Program  “ammaca” akan dilaksanakan 15 menit menit sebelum pembelajaran dimulai. Jadi, guru akan menanyangkan komik pada layar laptop dan murid akan bergantian membaca komik tersebut. Sedangkan pada saat daring guru akan membagikan komik kedalam grup dan meminta murid untuk membaca komik tersebut. Setelah membaca komik, guru akan meminta murid untuk memberikan pendapatnya tentang komik hari ini dan mengemukanan tentang hal baru atau hal menarik yang mereka temukan di dalam komik tersebut.

Tolak ukur :

Indikator keberhasilan program, yaitu meningkatnya minat baca pada murid.

Hasil aksi nyata

Motivasi murid dalam membaca mengalami peningkatan, sehingga minat membaca murid lebih meningkat. Murid lebih antusias dan bersemangat dalam membaca komik serta dapat berbagi pengalaman dengan teman sebayanya tentang isi komik yang dibaca.

Dokumentasi aksi nyata






PERASAAN (FEELINGS)

Perasaan saya senang karena dapat melaksanakan aksi nyata program “ Ammaca” karena dalam kegiatan ini saya dapat menggerakkan warga sekolah terutama rekan sejawat untuk bekerja sama dalam mengembangkan kemampuan murid yang dimulai dari membaca.

PEMBELAJARAN (FINDINGS)

Dalam aksi nyata program “Ammaca” sangat bermanfaat untuk saya karena saya dapat mengidentifikasi kebutuhan murid, merencanakan program yang berdampak pada murid, dan mengelola program yang mempertimbangkan risiko yang terjadi. Adapun tahapannya:

·         Identifikasi jenis resiko :

1.      Konsistensi pelaksanaan program “Ammaca” pada awal pembelajaran

2.      Beberapa murid yang memiliki kemampuan membaca masih rendah akan berperilaku negatif.

·         Pengukuran resiko : resiko yang dihadapi tidak terlalu besar, akan tetapi harus diperhatikan dan diukur dalam pelaksanaan program.

·         Strategi pengendalian resiko : ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menghadapi risiko yang mungkin terjadi, yaitu membuat jadwal atau alarm diri sehingga program akan konsisten berjalan. Melakukan diferensiasi dan tutor sebaya terhadap murid  yang memiliki kemampuan membaca masih rendah.

·         Melakukan evaluasi terus menerus secara berkala dan berkelanjutan dengan melibatkan warga sekolah.

PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)

Setelah melaksanakan aksi nyata ini harapannya dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan program berikutmya dan dapat menjadi inspirasi bagi rekan sejawat di sekolah maupun diluar sekolah dalam melaksanakan kegiatan serupa di sekolahnya.

Dokumentasi kegiatan

kegiatan membersihkan kelas  
kegiatan membersihkan halaman sekolah

kegiatan menceritakan komik yang telah dibaca

pembelajaran sosial emosional_gambar emotion

sampul komik pada my book



aplikasi yang digunakan

aplikasi yang digunakan membuat komik